Figure Blog

Manfaatkan Psikologis Pelanggan untuk Tingkatkan Penjualan dengan Strategi Nudge Marketing!

21 Sep 2023

Mana yang kamu pilih: Melihat pelanggan membeli produk dengan tertekan karena hard selling atau membeli produk dengan strategi marketing yang persuasif namun tidak memaksa?

Tentunya pilihan kedua akan lebih baik ya, Stockers. Apabila pelanggan membeli produk karena ada pressure tertentu, hal ini akan merusak pengalaman belanja pelanggan yang kemudian membuat pelanggan untuk memandang usahamu secara negatif.

Agar kamu bisa mendorong pelanggan membeli produkmu dengan cara yang mulus dan tanpa paksaan, nudge marketing adalah strategi marketing yang wajib kamu coba. Menariknya, strategi ini umum kamu temukan di berbagai tempat! Seperti apa penerapannya?

Apa yang Disebut sebagai Nudge?

Nudge adalah sebuah istilah yang merujuk pada teori yang disebut sebagai nudge theory. Teori atau konsep ini dicetuskan oleh James Wilk dan dipopulerkan oleh dua orang akademisi dari University of Chicago, yakni Richard Thaler dan Cass Sunstein lewat bukunya yang berjudul Nudge.

Nudge theory merupakan sebuah teori behavioral science yang menjelaskan bagaimana berbagai faktor lingkungan dan desain yang ada di sekitar seseorang bisa memengaruhi proses pengambilan keputusan orang tersebut.

Lantas, Apa itu Nudge Marketing?

Dalam konteks usaha dan pemasaran, nudge marketing adalah sebuah strategi marketing yang dirancang dengan memanfaatkan berbagai faktor desain dan mekanisme lainnya yang bisa memengaruhi psikologis pelanggan dalam mengambil keputusan saat membeli sebuah produk atau jasa.

Pada dasarnya, nudge marketing dilakukan agar pelanggan bisa lebih mudah mengambil keputusan dan tidak terlalu tertekan saat melakukan pembelian produk.

Mengapa Kamu Perlu Menggunakan Nudge Marketing?

Nudge marketing adalah salah satu strategi marketing yang sangat efektif karena satu faktor: Sifat alami manusia sebagai makhluk yang tidak rasional.

Maksudnya begini, manusia adalah makhluk yang cenderung mengambil keputusan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dulu ia miliki atau alami. Kehadiran nudge atau dorongan dari lingkungan membantu mempercepat proses tersebut.

Perhatikan contoh sederhana ini: Ketika seorang pelanggan dapat kupon yang ternyata lupa ia pakai karena sudah kadaluarsa, di masa depan, ketika ia mendapatkan kupon yang berbeda namun sama-sama punya waktu kadaluarsa, ia akan cenderung segera memakainya karena tidak mau kehilangan untung seperti yang ia lakukan dulu saat kuponnya kadaluarsa.

Dari segi pembeli atau pelanggan, nudge marketing sangat efektif untuk mempercepat dan mempermudah proses pengambilan keputusan seseorang saat akan membeli sebuah produk dan jasa sekaligus membuat mereka lebih tidak tertekan saat membeli produk tersebut.

Dari segi usaha, kamu bisa mendorong pelanggan melakukan pembelian tanpa perlu merasakan tekanan berlebihan. Artinya, keduanya sama-sama merasakan keuntungan.

Beberapa Contoh Penerapan Nudge Marketing

1. Product Labels

Label produk adalah cara yang tepat untuk memberitahu pelangganmu mengenai berbagai informasi yang mereka butuhkan, seperti fungsi atau tipe produk. Dua informasi krusial ini bisa jadi trigger untuk mendorong pelanggan membeli produkmu.

Misalnya, kalau kamu punya produk yang ramah untuk anak, kamu bisa memasang label kids friendly dan label ini dipakai untuk menargetkan orang-orang yang sedang mencari produk untuk anaknya.

2. Scarcity

Scarcity atau tingkat kelangkaan akan mengesankan bahwa produk tersebut cenderung eksklusif. Efek ini bisa mendorong pelanggan untuk segera memiliki produk tersebut karena pelanggan akan merasa eksklusif atau spesial ketika memiliki produk tersebut.

Scarcity bisa diterapkan dalam berbagai bentuk, mulai dari limited time product atau produk yang dijual hanya dalam waktu singkat saja sampai dengan produk yang jumlah produksinya terbatas.

3. Social Proof

Sebaik dan seberkualitas apapun produkmu, apabila belum ada yang membahas atau membicarakannya, maka produk tersebut akan sulit terjual.

Sekarang, bayangkan produkmu sudah diulas banyak orang sampai kemudian dibicarakan dimana-mana. Penjualannya pasti akan naik drastis. 

Inilah mengapa social proof dibutuhkan. Social proof yang positif akan mudah meyakinkan calon pelanggan lain yang ingin membeli produk yang sama.

Calon pelanggan lain akan berpikir apabila ada banyak orang yang membeli produk tersebut dengan ulasan positif, artinya produk tersebut memang berkualitas dan banyak orang sepakat dengan hal itu.

4. Decoy Effect

Contoh terbaik untuk menjelaskan decoy effect adalah ketika kamu pergi ke Starbucks. Di sana, kamu bisa melihat berbagai menu minuman disajikan dalam 3 ukuran gelas, mulai dari tallgrande, sampai venti.

Selisih harga dari tiap ukuran cenderung tipis. Dampaknya, pelanggan akan melihat bahwa ia akan lebih untung bila membeli ukuran minuman yang lebih besar atau yang terbesar.

Kalau misalkan usahamu menjual botol minum dengan 3 ukuran, yakni 300 ml, 500 ml, 800 ml, dengan harga masing-masing Rp50.000, Rp 75.000, Rp90.000, pelangganmu akan cenderung memilih ukuran botol 500 ml dan 800 ml. Pasalnya, mereka dapat ukuran yang lebih besar cukup dengan menambah sedikit biaya.

Kesimpulan

Kalau kamu ingin mendorong atau mempersuasi pelanggan untuk membeli produkmu, kamu butuh strategi marketing yang lebih jitu dan 'halus'. Hal ini perlu agar pelanggan tetap bisa memilih membeli produkmu tanpa harus ada tekanan yang membuat pengalaman belanja pelanggan tetap nyaman.

Dan disinilah, nudge marketing bisa membantumu melakukan hal tersebut.

Contact Us